Hakekat Perilaku Menghargai Teman

 Hakekat Perilaku Menghargai Teman

Hakekat Perilaku Menghargai Teman

Louis Thursthone, Rensis Likert dan Charles menyatakan bahwa “prilaku adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Prilaku seseorang terhadap suatu obyek perasaan mendukung atau memihak. Thourstone sendiri menyimpulkan “prilaku sebagai “Derajat Efek”, efek positif atau negatif terhadap suatu obyek psikologi”[17]. Sedangkan Secord dan Backman mendefinisikan “prilaku ialah kelenturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (Kognisi), prodisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya”[18].
Dalam konteks pendidikan, Benjamin S. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni : kawasan kognitif, kawasan afektif dan kawasan psikomotor. Taksonomi perilaku di atas menjadi rujukan penting dalam proses pendidikan, terutama kaitannya dengan usaha dan hasil pendidikan. Segenap usaha pendidikan seyogyanya diarahkan untuk terjadinya perubahan perilaku peserta didik secara menyeluruh, dengan mencakup semua kawasan perilaku[19].
Bohar Soeharto merumuskan “perilaku sebagai proses hasil belajar. Dalam proses belajar itu terjadi interaksi antara individu dan dunia sekitarnya”[20]. Sebagai hasil interaksi maka jawaban yang terlihat dari seseorang individu akan dipengaruhi oleh hal-hal atau kejadian-kejadian yang pernah dialami oleh individu tersebut maupun oleh situasi masa kini.
Macam-macam perilaku diantaranya :
1. Perilaku negatif yang nyata adalah perilaku yang bertentangan dengan aturan dan norma-norma yang berlaku dimana perilaku itu didasarkan atas desakan dari dalam, bukan karena pengaruh dari luar. Jadi perilaku ini merupakan perilaku murni, tidak dibuat-buat, sesuai dengan tabiat orang tersebut.
2. Perilaku positif yang nyata adalah perilaku yang didasarkan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku yang dilakukan atas dasar kesadaran dari orang yang bersangkutan, bukan karena takut hukuman atau sangsi dari organisasi.
3. Perilaku negatif yang diarahkan adalah perilaku yang bertentangan dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku dimana perilaku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar lingkungan.
4. Perilaku positif yang diarahkan adalah perilaku yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlau di mana perilaku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, atau disebabkan oleh suatu motif tertentu.
Abdul Azis Wahab berpendapat “bahwa yang dikatakan dengan tenggang rasa atau tepo seliro adalah sikap seseorang menempatkan perasaannya pada perasaan orang lain”[21]. Konsep tenggang rasa ini seperti halnya konsep mencintai adalah merupakan perwujudan dari adanya saling mencintai sesama manusia, maka akan timbul keinginan untuk dapat mencintai orang lain sebagai mana mencintai dirinya sendiri, sampai akhirnya timbul keinginan untuk tenggang rasa, yaitu merasakan apa yang dialami oleh orang lain seolah-olah terjadi pula atas dirinya, sehingga dalam perbuatannya selalu diimbangi dengan penuh pengertian dengan dasar tidak buruk sangka.
Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.
Toleransi dalam kehidupan masyarakat untuk mewujudkan kerukunan dan ketenangan antar sesama suku, golongan, agama, dan lain-lain yang berbeda-beda, kita hendaknya menyadari bahwa kita merupakan satu bangsa yang hidup bersama-sama di tempat yang sama dan dengan tujuan nasional yang sama pula.
Sikap toleransi sangat perlu dikembangkan karena;
1. Karena kita sebagai makhluk sosial, tidak bisa lepas dari bantuan rang lain. Jadi sikap toleransi itu sangatlah perlu dilakukan, sebagai makhluk sosial yang memerlukan bantuan terlebih dahulu maka kitalah yang hendaknya terlebih dahulu mengembangkan sikap toleransi itu, sebelum orang lain yang bertoleransi kepada kita. Jadi jika kita memerlukan bantuan orang lain, maka dengan tidak ragu lagi orang itu pasti akan membantu kita, karena terlebih dahulu kita sudah membina hubungan baik dengan mereka yaitu saling bertoleransi.
2. Sikap toleransi akan menciptakan adanya kerukunan hidup. Jika dalam suatu masyarakat masing-masing individu tidak yakin bahwa sikap toleransi akan menciptakan adanya kerukunan, maka bisa dipastikan jika dalam masyarakat tersebut tidak akan tercipta kerukunan. Sikap toleransi dapat diartikan pula sebagai sikap saling menghargai, jika kita sudah saling menghargai otomatis akan tercipta kehudupan yang sejahtera.
Nilai moral keramahtamahan yang perlu ditekankan bagi generasi muda bangsa Indonesia, diantaranya ;
a. Lapang dada, maksudnya tidak lari dari masalah yang harus dipecahkan.
b. Berjiwa besar, maksudnya dalam menghadapi segala macam hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang dating baik dari dalam negeri maupun yang dating dari luarnegeri, bangsa Indonesia harus menghadapinya dengan berjiwa besar.
c. Kekeluargaan, maksudnya segala macam masalah dapat dipecahkan melalui musyawarah.
d. Saling menghargai, maksudnya diantara sesame manusia harus saling menghargai satu sama lainnya.
e. Menghormati sesama, maksudnya manusia mempunyai hak dan kewajiban atas sikap saling menghormati dan setiap orang mempunyai hak untuk dihormati.
f. Suka menolong, maksudnya dalam memberikan pertolongan hendaknya tidak membeda-bedakan suku bangsa, ras, dan agama.[22]
Dalam kesetiakawanan sosial terkandung nilai moral yang diperlukan diantaranya sebagai berikut :
1. Tolong menolong, nilai moral ini tampak dalam kehidupan masyarakat, seperti tolong menolong sesame tetangga, sesama teman, dan lain-lain.
2. Gotong royong, nilai moral ini masih banyak dilakukan di daerah pedesaan, seperti menggarap sawah dan membuat rumah.
3. Kerja sama, nilai moral ini mencerminkan sikap mau bekerja sama dengan orang lain walaupun berbeda suku bangsa, ras, warna kulit, agama.
4. Nilai kebersamaan, nilai moral ini ada karena adanya keterikatan diri dan kepentingan, kesetiaan diri dan sesama, saling membantu dan membela, misalnya menyumbang korban bencana alam.[23]
Tenggang rasa mendukung harmonisnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Agar tenggang rasa membudaya dalam lingkungan kehidupan masyarakat, kita harus menjadikan tenggang rasa itu sebagai bagian dari kepribadian kita. Untuk itu, setiap orang harus mengembangkan sikap-sikap sebagai berikut :
a. berperasaan halus, tidak menyinggung perasaan orang lain
b. mau memahami sekaligus menghargai sikap dan pendirian orang lain
c. berani mengalah demi kebenaran
d. bertutur bahasa lembut dengan menggunakan kata-kata yang sopan
e. supel dan luwes dalam pergaulan
f. tahu bagaimana bersikap di hadapan yang lebih tua dan rekan sebaya
g. berusaha untuk selalu ramah dan rendah hati terhadap orang lain
h. membina toleransi beragama
i. menghindari perpecahan, bahkan sedapat mungkin melerainya untuk menciptakan kerukunan
j. menghargai kekhasan orang lain serta memberi kesempatan pada orang lain untuk mengungkapkan diri sesuai dengan kekhasannya (kepribadiannya)
k. mengkritik atau menegur kesalahan orang lain tanpa menyinggung perasaannya
l. menghindari tindakan melecehkan orang lain
m. mampu menyesuaikan diri dengan suasana hati atau perasaan orang lain (apakah sedang senang, sedih, apakah dalam situasi serius atau santai)
n. membuka diri kepada siapa saja, tanpa membedakan asal-usul, jenis kelamin, dan keturunan[24].
Dari teori-teori yang dikembangkan diatas maka disintesiskan bahwa perilaku menghargai teman adalah suatu tindakan dalam menghadapi suatu obyek, ide dan situasi atau nilai di dalam berperilaku yang meliputi tolong menolong, gotong royong, kerja sama, serta nilai kebersamaan.

Sumber : https://www.anythingbutipod.com/